Entahlah

Author: catatan akhir ........ /


(Juli, 8 - 2010)

... Entahlah ....

Ketika ketulusan ini tak lagi berarti
ketika keihlasan telah kehilangan essensinya
Apa yang harus kita tunggu lagi ?

Ketika semua mendadak pudar dan makna pun hilang
ketika senyum ini mulai ber-alih menjadi kegetiran juga pahit
Apa yang kamu fikirkan ?

Yang jelas semuanya telah mulai terkikis bersama diam dan waktuku
semuanya menjadi bak bintang di langit, tersebar, ga jelas
dan hanya menjadi tanya.

Dalam Diamku

Author: catatan akhir ........ /


(Juni, 26 - 2010)


De...

Dalam diamku
kucoba untuk tembusi demensi ruang dan waktu
hanya untuk melihat dirimu.

Ternyata Bandung tak lagi dingin ya De...
walo ini sudah pukul hampir 23.30 wib

Hm,
kenapa terus seperti ini ?
hampir 1/2 semester waktu yang kau lampui
tapi sampai dengan saat ini pun dirimu belum bisa lupakan dia,Kehadirannya yang sesaat juga guratan warna yang telah dia berikan kepadamu juga kalian jalani, upss....mampu menutup semua logikamu.

Dalam diamku,
Pada kamar yang kukenal betul tiap jengkal dan sudutnya,
diantara temaram lampu ini, jelas terlihat sorot matamu begitu berharap akan kehadirannya, sesekali kau remas lembut jemarimu ga jelas karena kegelisahanmu, dan sesekali kau sibakkan indah legam rambutmu, hingga kadang tarikan nafasmu kau hembuskan begitu hangat kurasakan.
guratan demi guratan kalimat itu semuanya bercerita 'akan sosok dia'
dan bagiku gaung itu jelas terdengar hingga relung sukmamu

Seandainya kau tahu de....
Dari tadi aku sudah duduk disudut meja ini, temani dirimu
bersebelahan sama jejeran buku yang masih tetap rapi sebagaimana 1 tahun lalu aku tinggalkan.

Yang kau lakukan ini sungguh tak berbanding lurus dengan diri dia de....
Sementara dirimu terus seperti ini, menunggu dan menunggu
sedang realita yang ada ...
tak satupun jawab terlihat darinya
Kesan dia begitu saja ... hilang blasss !!! seperti angin tak berbekas.

Sering kulihat, dalam keletihanmu tanpa setahu dirimu
terkadang kau coba untuk berdiri pada realita yang ada
Tapi hasratmu kembali menggeliat bahkan begitu dominan
dan kembali menutup fikiran sehatmu.
Mungkin inilah yang sering mereka sebut : love is blind

Kalopun saran yang kuberikan kepadamu tak banyak membawa perubahan,
aku mohon maaf dan kini kesemuanya kukembalikan pada dirimu

hanyak aku merasa sayang,
kau telah buang banyak waktu untuk sesuatu yang semu
dan juga aku paling ga bisa melihat, apa yang terjadi pada dirimu
terlebih Engkau adalah sosok bagian dari hidupku
hidupmu kini stagnan, sudah berapa lama kau bersikap seperti ini ?

Ade, hidup itu adalah sebuah pilihan
Engkau boleh memiliki puluhan bahkan ratusan pertimbangan
tapi hendaknya perlu ada satu keputusan, bila tidak ! semuanya hanya akan menjadi sampah pada benak dan fikirmu.

Kalopun tetap sosok dia yang engkau harapkan dan tak tergantikan
kenapa upayamu hanya merenung dan merenung tanpa kejelasan sebuah sikap ?
ataukah memang ini 'bagian' dari melankoni yang kau suka ?
bermain pada bayang semu dan berpijak pada harapan
tak sadarkah bahwa ini hanya merugikan dirimu juga masa depanmu ?

Aku sebagai laki-laki, sangatlah beda pola fikirnya denganmu De...
tapi pertanyaannya sederhana : yang kau harap dan kau cintai itu juga sosok mahluk laki-laki dan aku juga laki-laki
tahu betul isi kepala juga bathin dia
dan itu jelas terlihat pada sikapnya padamu.

Arrrgh....rasanya ingin sekali menghantam 'circle' ini
dan tak seimbang bener dengan kelembutan hatimu, juga kebaikan dirimu

Sudahlah, itu hanya pemikiranku saja, semoga ini menyadarkan dirimu
bahwa hidup itu masih harus berlanjut dan jangan buang waktu
Banyak sayang ya De...
Semoga engkau faham apa yang kumaksud.


Terhadap Langkah & Kisahmu

Author: catatan akhir ........ /











De...

Begitu mendengar beritamu, jujur ingin rasanya spontan peluk dirimu dan bisa raih lembut tanganmu untuk sama sama tempuh lorong gelap ini.


Kenapa baru sekarang ???

bukankah sudah pernah kusampaikan sejak awal juga dahulu, janganlah merasa sendiri dalam hidupmu, ataukah karena ada bentuk ke-engganan lainnya.


De,

Kalo cahaya itu makin mengecil bukan karena karunia Allah kepada dirimu kian padam, tidak !!! itu ga lebih karena sebagai akibat keletihan dirimu yang begitu memuncak serta beban kecewamu atas warna hidup yang tak sesuai dengan anganmu.

Bila kau ijinkan, ayo kita tempuh langkah ini dan temani dirimu hingga batas "biru" itu, tataplah mata ini dan yakinkan bahwa kasih sayang ini ihlas dan tak punyai batas tepi.


Sekali lagi maaf bila kuingatkan ...'kita itu hanya wayang dan dalangnya adalah Allah'... dengan pemahaman ini moga dari relung nuranimu bisa timbul rasa ihlas dan meletakkan permasalahanmu pada DIA yang Maha Kuasa atas tiap makhluk yang bernyawa.


antara angan dan realita

Author: catatan akhir ........ /

De,

Ternyata sulit, berdiri diantara realita dan angan

Walo hanya untuk diam sesaat.


Sudah kuupayakan untuk tak mencari, juga untuk menata hati agar tak lagi riuh dan tak kupedulikan serpihan debu diantara mata yang semakin kuyu


Ternyata rasa ini, mirip sebaran galaxy Allah...

Yang selalu ada dan terlihat diantara gelapnya alam tata surya diketinggian sana


De,

Walo mata ini kucoba untuk terpejam sesaat,

hanya untuk istirahat berhenti berfikir tentang mu tetapi rasa ini tetap ada bergerak, berputar seolah tho’af yang seolah simbangkan antara angan dan realita.


Dan ....

Untuk kesekian kali rasa itu tetap benderang

seperti matahari, yang tak mau padam.



Just For You - Richard Cocciante

Author: catatan akhir ........ /

Tirai

Author: catatan akhir ........ /

Bila Engkau tanya
Apakah sebesar itu rasa juga asamu ??
Aku bilang iya.


Ketika tulisan mendekati kenyataan...
Ketika antara kau dan aku tersekat pada dinding..
kulihat diantara tertatihmu, engkau berusaha kuat tepis rasa hati yang engkau sendiri tak bisa mengartikannya.

Diantara sudut tepian alam ini
Tak banyak kata yang terucap dari sudut bibirmu, selain kalimat terimakasih atas perhatian, sayang juga warna biruku
"...aku begitu tersanjung.." hanya itu seperti kebiasaanmu yang lebih banyak memilih diam dan kalimat itu meluncur diantara tatapan bening indah bola matamu.

De...bila karunia ini hanya bebani dirimu, aku tak mau !
Janganlah kesemua ini menjadi mengharu biru atau membuatmu terus berfikir
cukup semua ini kusimpan rapi bersama waktu & doa buatmu.

Saat kau sampaikan :
kau akan isi cinta ini dengan sewajarnya,
aku setuju
dan bukankah cinta tak selalu bisa untuk dimiliki, benarkan.... ?
dan kau pun mengangguk pelahan dengan tatapan lembutmu.
dan kau sampaikan : "..kau akan jadi sahabatku, sahabat yang selalu membuatku tersenyum..".

Diantara cabin pesawat yang membawaku pulang, masih terngiang kalimatmu :
".. seandainya cintaku lebih dari yang sekarang ke dirimu, pasti itu akan menyakitkan diri kita berdua ..".
".. Aku ingin cinta yang kita punya adalah murni yang membuat kita tidak larut dan tersesat, tersesat pada fikiran yang tidak bisa dimiliki.."
"..Dan maaf aku telah batasi hal ini.."

Kuanggukan kepala tanda setuju
dan itu lah yang menemani saat ini diantara awan dan ketinggian pesawat yang membawaku pulang.

Potrait

Author: catatan akhir ........ /

Kalaupun aku mampu bertahan duduk disini

itu karena ga lebih dari pemandangan potrait ini, amati camar yang begitu bebas terbang, indah dengan kelompoknya. Mereka banyak berikan warna.

Dan kinipun lintasan yang dulu saat bersamamu, kuat tapaki hingga denyut nadi ini, dirimu yang pemalu, lebih banyak diam, tak suka dengan keriuhan dan lebih memilih pergi ke alam lepas, sebuah sosok diri dengan kemanjaannya, dengan rajuk mesranya atau tatapan bening saat dirimu meminta ups....itu !! yang tak mampu kulupa darimu, belum lagi gaya bicaramu, kenakalan akan jahilmu hingga membuatku sedikit uring uringan dan kamu hanya bilang : biarinnn.... aku suka kok !, semuanya tampak indah tak ada cela.

Hmm,
Membuka kenangan seperti saat ini , jujur aku tak mampu lalui sendiri De..... dan kuharap ada dirimu temaniku. Saking kuatnya rasa ini kadang untuk menepis, kucoba alihkan sudut pandang mata ini tetapi apa...?? bayangmu semakin lepas menari begitu bebas dan sangat jelasnya di benak ini, tak sadar ingin sekali aku merengkuhmu seperti dulu, memelukmu dengan kelembutan dan sesekali kucium mesra rambutmu.

Ade,
Melihat camar camar ini dengan tepian laut yang tak terbatas, juga sesekali percikan lembut ombak di kaki cukup menghiburku diantara galau ini, ufffffff.........tak sadar aku hirup nafas panjang dan melepas begitu kuatnya, berharap "potrait" ini bisa segera lepas dari kisi relung hati, untuk kembali sadar bahwa realita sangat jauh dari asa.

Mengingatmu,
adalah sesuatu yang menyenangkan tapi juga mengharu biru pada sukmaku
entah... apa karena saking kangennya pada dirimu, aku tiba tiba tersentak kaget tak sadar deburan ombak menerpa dan basahi seluruh bajuku, ups....makasih...dia telah ingatkan aku bahwa hari sudah beranjak senja.....entah sudah berapa lama aku ada disini, kucoba spontan lihat kanan dan kiri tak lagi ada orang, hanya awan yang semakin menghitam juga sinar keperakan diujung cakrawala itu tunjukkan hari mulai beranjak malam.

Ternyata, separuh nafas ini telah kau bawa pergi
dan kembali aku hanya bisa berdoa buatmu, berangan seperti apa kau sekarang ?
aku pamit dulu, banyak sayang dan kasih ini buatmu.